Minggu, 16 Juni 2013

Collaboration with Hearing Impaired Children/Youth

Festival Tuna Rungu di Gedung Kesenian Societet Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (26/5/2013) Kegiatan ini sekaligus dalam rangka memeriahkan HUT ke-75 SLB/B Dena-Upakara Wonosobo, jawa Tengah

di persembahkan oleh Keluarga Alumni SLB/B Dena-Upakara dan Don Bosco (ADECO) wilayah Yogyakarta

Selasa, 04 Juni 2013

Jembatan Suramadu

Indahnya Jembatan Suramadu


Suramadu 
Jembatan Suramadu
disamping berfungsi mempercepat perjalanan dari Surabaya ke Madura, juga menjadi pemandangan yang enak dilihat. 

Kalau dulu mau menyeberang dari Ujung (Surabaya) ke Kamal (Madura) memakan waktu sekitar 40 menit. Itu belum termasuk waktu muat dan menunggu kapal jalan. Bahkan kalau cuaca lagi kurang bagus, atau pada musim ramai (hari raya) total waktu yang diperlukan bisa sampai 2 jam. Sekarang dengan jembatan Suramadu dari sisi Surabaya ke Madura bisa ditempuh tidak lebih dari 15 menit. Bahkan, kalau mau ngebut pakai mobil bisa lebih cepet lagi.

Disamping cepat, kita dihadiahi juga pemandangan yang enak dilihat. Kalau siang hari jembatan ini indah dengan bentangan besinya yang berwarna orange, dan suasana laut di kiri kanannya. Belum lagi di titik tertinggi jembatan, ini adalah tempat yang paling menarik. Makanya banyak pengendara mobil yang berhenti untuk melihat-lihat dan berfoto. Padahal jembatan ini termasuk jalan tol yang tidak boleh berhenti sembarangan. Tapi tetap saja banyak yang melanggar.

Kalau malam akan lebih indah lagi. Tiang-tiang penyangga dan besinya disinari lampu tembak berwarna warni dari arah bawah. Sayangnya kamera yang saya gunakan hanya kamera pocket biasa yang kurang memadai untuk mengambil gambar di malam hari. Kalau pakai DSLR pasti lebih bagus hasilnya.

Sebenarnya pengen juga mengambil gambar jembatan Suramadu dari arah laut, baik dari kiri atau kanan. Tapi bagaimana caranya ya?

Hampir di tengah jembatan 

Mau berhenti dan foto-foto?

Kabel orange 

Suramadu cuaca berawan 

Suramadu cerah berawan



Suramadu di malam hari

Sabtu, 01 Juni 2013

Perjalanan kereta api Kehutanan Cepu, Jawa Tengah

Forestry train journey at Cepu, Central Java

Bagi seorang railfans, setiap naik kereta api adalah sebuah pengalaman yang menarik, apalagi jika masih dapat merasakan rangkaian kereta api uap seperti di masa lalu.
Minggu lalu saya berkesempatan untuk mengikuti perjalanan ujicoba rangkaian kereta api uap milik Perhutani di Cepu, Jawa Tengah. Sebuah kesempatan langka yang tidak mungkin untuk disia-siakan begitu saja, apa lagi perjalanan kereta api ini sempat terhenti akibat salah satu jembatan yang berada di dalam rutenya mengalamai kerusakan terkena amukan banjir besar.
Untuk mencapai lokasi tempat keberangkatan kereta api uap di Perhutani ini tidaklah sulit, Cepu bukanlah sebuah kota yang besar, menurutku masih lebih luas wilayah Kebayoran Baru daripada kota Cepu. Dari Stasion kereta api Cepu dapat ditempuh menggunakan becak seharga 7500 Rupiah saja, atau jika ingin menikmati suasana sepu yang tidak sepadat Jakarta, dapat berjalan kaki sejauh lebih kurang 2.5 KM melintasi kota.

Setibanya di dipo lokomotive milik Perhutani, sudah menunggu sebuah lokomotive uap buatan Berliner Maschinenbau tahun 1928. Pabrik lokomotive di Jerman ini didirikan pada 3 Oktober 1852 oleh Louis Victor Robert Schwartzkopff di Berlin.
Loko ini deberi nama Tudjubelas, sebuah nama yang unik. Di sana setidaknya ada dua lokomotive sejenis dengan nama Bahagia dan Agustus.
tudjubelas steam locomotive at Cepu, Central Java, Indonesia
Pagi ini adalah perjalanan perdana melintasi perkebunan dan hutan jati milik Perhutani setelah perbaikan jembatan dilakukan. Perjalanan sejauh lebih kurang 22 KM melalui daerah perkampungan, ladang, hutan dan perbukitan yang menyuguhkan suasan asri penuh dengan keindahan.
Rel kereta api yang selama dua tahun terakhir tidak lagi pernah dilewati, telah diperbaiki dengan cara mengganti bantalan kayu yang lapuk dengan potongan-potongan kayu jati yang lebih kokoh. Di beberapa tempat yang ambles telah diberi batu kricak (balast) untuk mengeraskan tanah yang melunak.
Hujan yang turun di tengah perjalanan membuat suasana menjadi semakin seru, para crew yang bekerja harus berbasah-basah terkena hujan, sementara di kereta penumpang kami dapat duduk dengan nyaman sambil melihat pemandangan di luar yang basah.
Rainy day at Cepu
Di tengah perjalanan, rangkaian melintas di atas jalan raya Cepo – Blora, kami menyempatkan untuk berhenti sejenak untuk memotret kereta api yang melintas di atas jalan raya, lokasi ini dikenal dengan nama Buk Brosot (buk dapat berarti jembatan dalam bahasa Jawa). Beberapa orang pengemudi kendaraan bermotor di bawahnya bahkan menyempatkan untuk berhenti, karena mendapatkan peristiwa yang cukup langka ini.
Steam Train over the viaduct
Kira-kira dua jam perjalanan dari Dipo Lokomotive Perhutani, kami akhirnya tiba di tempat tujuan, yaitu Gubuk Payung. Sebuah tempat yang menurutku sangat indah karena berada di tengah-tengah rimbunnya hutan jati yang berumur ratusan tahun. Saat kami tiba, waktu menunjukan pukul 12 siang, tetapi di Gubuk Payung, suasan sudah seperti Maghrib, karena cahaya matahari tertahan oleh rimbunnya daun-daun jati, indah sekali.
Sebenarnya masih ada jalur kereta api lagi setelah Gubuk Payung, tetapi saat ini semua telah hilang, orang-orang yang tidak bertanggung jawab telah mencuri sebagian besar rel di sana, padahal jalur selanjutnya lebih menantang, karena benar-benar di dalam hutan lebat.

Steam locomotive at Gubuk Payung, Cepu

Setelah istirahat makan siang, saya melanjutkan memotret dan bersiap-siap untuk kembali ke kota Cepu. Rangkaian kereta api sudah diputar dan siap membawa kami kembali.
Perjalanan pulang terasa begitu cepat karena saya sudah mulai lelah dan sempat tertidur beberapa saat. Di tengah jalan, banyak anak-anak kecil melambai-lambaikan tangan seolah bahagia karena melihat sebuah peristiwa besar, beberapa bahkan berlarian mengejar rangkaian kereta api.
Perjalanan saya kali ini memang sangat luar biasa, pasti saya akan kembali lagi ke Cepu untuk dapat menikmati naik kereta api uap legendaris ini. Tidak salah mereka membuat slogan “It is only four hours, but the memory of your teak plantation tour will last forever“.