Rabu, 10 Juli 2013

Ramadhan "Jauhkan Puasa Kami Dari Puasa Gombal"

Puisi Ramadhan "Jauhkan Puasa Kami Dari Puasa Gombal"

Ramadhan
Anwar Noaka

1.
kami awali dengan polemik, kontroversi
pengakuan tentang siapa yang benar-benar
berjumpa perawan bulan. menghitung
atau memandang di batas limit misteri

sehabis itu. baru kami menata niat
berucap basmalah memegang pendirian pribadi
berlapar. berdahaga. dari sahur menuju buka
menggapai hari raya yang tak pasti tenang

2.
mengais berkah dan ijabah dari masa istimewa
bertolak dari benih-benih semangat yang terpecah
haruskah?

rahmat tuhan seakan hanya bisa dinikmati
bila kubu-kubu pikiran berseteru, berdiri pada
kutub masing-masing tanpa magnetisme

adakah keterberaian lebih menawan dari kekompakan?

entah. bila berdasar kepentingan. sebagaimana
kesehatan (rokok putih) yang gencar mengecam
kretek-kretek lintingan

3.
Ya Allah,
jauhkan puasa kami dari golongan puasa gombal
kaum-kaum yang nampak khusuk. padahal ditekuk tunduk
oleh mabuk. sebatas sibuk menambal celah-celah formal
amin!



Minggu, 16 Juni 2013

Collaboration with Hearing Impaired Children/Youth

Festival Tuna Rungu di Gedung Kesenian Societet Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (26/5/2013) Kegiatan ini sekaligus dalam rangka memeriahkan HUT ke-75 SLB/B Dena-Upakara Wonosobo, jawa Tengah

di persembahkan oleh Keluarga Alumni SLB/B Dena-Upakara dan Don Bosco (ADECO) wilayah Yogyakarta

Selasa, 04 Juni 2013

Jembatan Suramadu

Indahnya Jembatan Suramadu


Suramadu 
Jembatan Suramadu
disamping berfungsi mempercepat perjalanan dari Surabaya ke Madura, juga menjadi pemandangan yang enak dilihat. 

Kalau dulu mau menyeberang dari Ujung (Surabaya) ke Kamal (Madura) memakan waktu sekitar 40 menit. Itu belum termasuk waktu muat dan menunggu kapal jalan. Bahkan kalau cuaca lagi kurang bagus, atau pada musim ramai (hari raya) total waktu yang diperlukan bisa sampai 2 jam. Sekarang dengan jembatan Suramadu dari sisi Surabaya ke Madura bisa ditempuh tidak lebih dari 15 menit. Bahkan, kalau mau ngebut pakai mobil bisa lebih cepet lagi.

Disamping cepat, kita dihadiahi juga pemandangan yang enak dilihat. Kalau siang hari jembatan ini indah dengan bentangan besinya yang berwarna orange, dan suasana laut di kiri kanannya. Belum lagi di titik tertinggi jembatan, ini adalah tempat yang paling menarik. Makanya banyak pengendara mobil yang berhenti untuk melihat-lihat dan berfoto. Padahal jembatan ini termasuk jalan tol yang tidak boleh berhenti sembarangan. Tapi tetap saja banyak yang melanggar.

Kalau malam akan lebih indah lagi. Tiang-tiang penyangga dan besinya disinari lampu tembak berwarna warni dari arah bawah. Sayangnya kamera yang saya gunakan hanya kamera pocket biasa yang kurang memadai untuk mengambil gambar di malam hari. Kalau pakai DSLR pasti lebih bagus hasilnya.

Sebenarnya pengen juga mengambil gambar jembatan Suramadu dari arah laut, baik dari kiri atau kanan. Tapi bagaimana caranya ya?

Hampir di tengah jembatan 

Mau berhenti dan foto-foto?

Kabel orange 

Suramadu cuaca berawan 

Suramadu cerah berawan



Suramadu di malam hari

Sabtu, 01 Juni 2013

Perjalanan kereta api Kehutanan Cepu, Jawa Tengah

Forestry train journey at Cepu, Central Java

Bagi seorang railfans, setiap naik kereta api adalah sebuah pengalaman yang menarik, apalagi jika masih dapat merasakan rangkaian kereta api uap seperti di masa lalu.
Minggu lalu saya berkesempatan untuk mengikuti perjalanan ujicoba rangkaian kereta api uap milik Perhutani di Cepu, Jawa Tengah. Sebuah kesempatan langka yang tidak mungkin untuk disia-siakan begitu saja, apa lagi perjalanan kereta api ini sempat terhenti akibat salah satu jembatan yang berada di dalam rutenya mengalamai kerusakan terkena amukan banjir besar.
Untuk mencapai lokasi tempat keberangkatan kereta api uap di Perhutani ini tidaklah sulit, Cepu bukanlah sebuah kota yang besar, menurutku masih lebih luas wilayah Kebayoran Baru daripada kota Cepu. Dari Stasion kereta api Cepu dapat ditempuh menggunakan becak seharga 7500 Rupiah saja, atau jika ingin menikmati suasana sepu yang tidak sepadat Jakarta, dapat berjalan kaki sejauh lebih kurang 2.5 KM melintasi kota.

Setibanya di dipo lokomotive milik Perhutani, sudah menunggu sebuah lokomotive uap buatan Berliner Maschinenbau tahun 1928. Pabrik lokomotive di Jerman ini didirikan pada 3 Oktober 1852 oleh Louis Victor Robert Schwartzkopff di Berlin.
Loko ini deberi nama Tudjubelas, sebuah nama yang unik. Di sana setidaknya ada dua lokomotive sejenis dengan nama Bahagia dan Agustus.
tudjubelas steam locomotive at Cepu, Central Java, Indonesia
Pagi ini adalah perjalanan perdana melintasi perkebunan dan hutan jati milik Perhutani setelah perbaikan jembatan dilakukan. Perjalanan sejauh lebih kurang 22 KM melalui daerah perkampungan, ladang, hutan dan perbukitan yang menyuguhkan suasan asri penuh dengan keindahan.
Rel kereta api yang selama dua tahun terakhir tidak lagi pernah dilewati, telah diperbaiki dengan cara mengganti bantalan kayu yang lapuk dengan potongan-potongan kayu jati yang lebih kokoh. Di beberapa tempat yang ambles telah diberi batu kricak (balast) untuk mengeraskan tanah yang melunak.
Hujan yang turun di tengah perjalanan membuat suasana menjadi semakin seru, para crew yang bekerja harus berbasah-basah terkena hujan, sementara di kereta penumpang kami dapat duduk dengan nyaman sambil melihat pemandangan di luar yang basah.
Rainy day at Cepu
Di tengah perjalanan, rangkaian melintas di atas jalan raya Cepo – Blora, kami menyempatkan untuk berhenti sejenak untuk memotret kereta api yang melintas di atas jalan raya, lokasi ini dikenal dengan nama Buk Brosot (buk dapat berarti jembatan dalam bahasa Jawa). Beberapa orang pengemudi kendaraan bermotor di bawahnya bahkan menyempatkan untuk berhenti, karena mendapatkan peristiwa yang cukup langka ini.
Steam Train over the viaduct
Kira-kira dua jam perjalanan dari Dipo Lokomotive Perhutani, kami akhirnya tiba di tempat tujuan, yaitu Gubuk Payung. Sebuah tempat yang menurutku sangat indah karena berada di tengah-tengah rimbunnya hutan jati yang berumur ratusan tahun. Saat kami tiba, waktu menunjukan pukul 12 siang, tetapi di Gubuk Payung, suasan sudah seperti Maghrib, karena cahaya matahari tertahan oleh rimbunnya daun-daun jati, indah sekali.
Sebenarnya masih ada jalur kereta api lagi setelah Gubuk Payung, tetapi saat ini semua telah hilang, orang-orang yang tidak bertanggung jawab telah mencuri sebagian besar rel di sana, padahal jalur selanjutnya lebih menantang, karena benar-benar di dalam hutan lebat.

Steam locomotive at Gubuk Payung, Cepu

Setelah istirahat makan siang, saya melanjutkan memotret dan bersiap-siap untuk kembali ke kota Cepu. Rangkaian kereta api sudah diputar dan siap membawa kami kembali.
Perjalanan pulang terasa begitu cepat karena saya sudah mulai lelah dan sempat tertidur beberapa saat. Di tengah jalan, banyak anak-anak kecil melambai-lambaikan tangan seolah bahagia karena melihat sebuah peristiwa besar, beberapa bahkan berlarian mengejar rangkaian kereta api.
Perjalanan saya kali ini memang sangat luar biasa, pasti saya akan kembali lagi ke Cepu untuk dapat menikmati naik kereta api uap legendaris ini. Tidak salah mereka membuat slogan “It is only four hours, but the memory of your teak plantation tour will last forever“.

Jumat, 31 Mei 2013

MAKANAN KHAS WONOSOBO DAN PURWACENG GUNUNG DIENG


MAKANAN KHAS WONOSOBO DAN PURWACENG GUNUNG DIENG.

Wonosobo begitu asri bila menyandingkan nama kota  ini dengan pesona Dataran Tinggi Dieng. Di kota kecil nan sejuk hawanya ini, Anda dapat merasakan kesegaran hawa kota yang belum tersentuh oleh polusi asap kendaraan bermotor secara berlebihan. Menikmati kota Wonosobo di malam hari sungguh merupakan kenangan tersendiri bila juga mencoba wisata kuliner yang menjadi ciri khas kota ini. Sebut saja mie ongklok, sate sapi, tempe kemul dan lekok atau geblek. Makanan khas ini dijajakan di restoran dan di warung angkringan pinggir jalan.
Berjalan arah selatan dari alun-alun Wonosobo Anda akan bertemu dengan Taman kota dengan 4 arah penunjuk jalan. Ke timur menuju Kretek, selatan menuju Kebumen dan ke barat menuju Banjarnegara. Sedangkan arah utara  menuju dataran tinggi Dieng. Di sekitar taman kota ini banyak restauran yang menjajakan makanan khas kota ini dan tentunya harganya terjangkau oleh kocek Anda.
Sebut saja mi ongklok yang mirip dengan mie ayam dengan tampilan dan ciri khas rasa berbeda. Racikan dan komposisi dari bahan-bahan yang mudah didapatkan, seperti mie kuning ( mie telur ), daun bawang, dan kol yang disiram dengan kuah coklat kental. Kuah ini terbuat dari campuran bawang putih, bawang merah, ebi dan tepung tapioka. Untuk bahan tambahan tinggal ditambah sambal kacang dan taburan bawang goreng.
Menikmati mie ongklok di siang hari yang panas sepertinya tidak begitu menimbulkan sensasi berarti. Namun jika Anda menikmati mie ongklok di malam hari di mana udara kota Wonosobo sangat dingin, sensasi ngebul mie ongklok ini bakal melenakan lidah Anda untuk terus minta nambah seporsi mie ongklok lagi.
Seporsi mie ongklok, sate sapi dan tempe kemul sudah cukup membuat perut ini kenyang. Serba murah meriah apalagi meyantapnya di malam hari dengan udara cukup dingin di kota Wonosobo.
Lekok atau geblek terbuat dari tepung tapioka yang digoreng. Orang-orang dari luar Wonosobo sering menyebut makanan ini sebagai cireng.
Bukan itu saja keistimewaan mie ongklok yang merupakan makanan ciri khas Kota Wonosobo. Di sini Anda dapat pula mencicipi menu pendamping yaitu sate sapi. Paduan menyantap mie ongklok dan sate sapi yang bertekstur serba manis, pasti lidah miliksahabat sehat dengan reiki semua akan bergoyang.
Menyantap mie ongklok akan bertambah nikmat bila Anda juga mencocol tempe kemul ( tempe berselimut ) yang bahannya tempe dibaluri tepung lalu digoreng dengan bumbu kunyit dan daun bawang. Sedangkan lekok atau geblek terbuat dari tepung tapioka yang digoreng. Semuanya ada di Wonosobo dan sebagai pengusir hawa dingin, Anda dapat memesan wedang jahe…yang di Solo atau Jogja ada di warung angkringan atau disebutwarung hik.
Mie ongklok makanan khas Wonosobo. Menyantap mie di habitatnya sangat mengesankan apalagi ditambah tempe kemul dan sate sapi.
Mie ongklok adalah makanan khas dari Wonosobo yang mempunyai rasa sangat nikmat dan sudah merakyat sejak jaman dulu kala. Kenapa ya kok dinamai Mie Ongklok? Kalau soal itu, saya sendiri sih nggak tau ya.. mungkin karena cara membuatnya di “ongklok-ongklok” alias dikocok-kocok.
Memang wedang jahe tidak umum dijual di warung-warung kaki lima atau restauran di kota ini. Tetapi bila Anda memerlukan dapat memesan kepada ibu penjual untuk membuatkan minuman wedang jahe sebagai penghangat tubuh mengusir hawa dingin yang datang dari Dataran Tinggi Dieng.
Sedangkan di Kawasan Dataran Tinggi Dieng sendiri, minuman suplement penghangat selera yang terkenal untuk membuat greng kaum pria yaitu purwaceng, sudah lazim dikonsumsi warga setempat untuk menambah gairah di tempat tidur. Jadi….Silakan terjemahkan sendiri makna kata purwaceng ini.
Tahun 1988 saat sehat dengan kundalini reiki dan kerabat kerja membuat liputan seputar Pesona Alam Dieng dan diteruskan dengan liputan budaya fenomena anak rambut gembel di Kawasan Dataran Tinggi Dieng, sesepuh desa tempat kami melakukan liputan, membagikan bungkusan purwaceng kepada semua kerabat kerja yang hadir di desa ini.
Kami kerabat kerja wanita hanya mesem-mesem saja menerima bingkisan itu. ” Itu untuk oleh-oleh orang rumah Mbak? ” kata Pak Kamituo, sebutan untuk jabatan Kepala Dusun yang mendampingi tim liputan kala itu. Beliau menjelaskan bahwa Purwaceng sebagaimana diulas dalam jurnal ilmiah adalah tanaman legendaris yang dijadikan obat kuat oleh para raja atau kalangan istana di daerah Jawa kala itu.
Menurut situs cyberman.cbn.net.id yang dikutip dari detik news, di Indonesia tumbuhan atau tanaman obat yang memiliki khasiat penambah stamina (aprosidiak) umumnya digunakan atas dasar mitos, kepercayaan dan pengalaman. Namun khasiat tanaman Purwaceng ini bukan sekedar mitos belaka karena studi sudah membuktikannya. Purwaceng banyak ditemukan di pegunungan seperti di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.
Nama latin Purwaceng adalah  Pimpinella Pruacan (alpina). Pertama kali ditemukan di pegunungan Alpen, Swiss dengan ketinggian 2000-3000 meter di atas permukaan laut. Tumbuhan ini dikenal juga dengan nama lain Suripandak abang (pegunungan Lyang, Jawa Timur) dan Gebangan Depok (Gunung Tengger).
Penampakan fisik Purwaceng adalah semak kecil merambat di atas permukaan tanah seperti tumbuhan pegagan dan semanggi gunung. Daunnya kecil-kecil berwarna hijau kemerahan dengan diameter 1-3 cm.
Penampakan fisik Purwaceng adalah semak kecil merambat di atas permukaan tanah seperti tumbuhan pegagan dan semanggi gunung. Daunnya kecil-kecil berwarna hijau kemerahan dengan diameter 1-3 cm. Dari berbagai penelitian yang dilakukan beberapa perguruan tinggi dalam negeri diketahui bahwa ada efek nyata antara tanaman purwaceng terhadap peningkatan kemampuan seksual. Oleh karena itu, Purwaceng sering disebut sebagai Viagra Tradisional atau Viagra Indonesia.
Setelah lamunan Anda tentang Purwaceng usai, mari menikmati Mie Ongklok kembali.Bila sensasi rasa mie ongklok, sate sapi, tempe kemul, legok masih melekat di lidah Anda semua, sekalipun makanan itu sudah tandas ke dalam perut , tak ada salahnya mereguk teh hitam manis hangat produksi Tambi sebagai minuman penutup.
Semua itu ada di kota Wonosobo Gilar-Gilar nan asri yang tidak bakal Anda temukan di daerah lain. Akhirnya rasa penat akan hilang setelah menempuh perjalanan melelahkan mendaki dataran Tinggi Dieng. Melihat tanaman Purwaceng dan kebun Teh Tambi merupakan pengalaman yang tidak mudah dilupakan saat tubuh mulai merebahkan diri di penginapan.
Kalau sensasi Purwaceng biarlah sahabat sehat dengan kundalini reiki dan orang terdekat Anda semua, bisa merasakan ketika sudah tiba di rumah dan berkumpul dengan orang tercinta.



Wonosobo Tempo Doeloe

Wonosobo Tempo Doeloe


pusat-kota
pusat kota wonosobo (1976)

jl-pasukan-ronggolawe
Jl. pasukan ronggolawe (1976)
Ini adalah kumpulan Foto-foto yang menggambarkan keadaan kota Wonosobo pada era tahun 1976, Foto-foto yang menggambarkan betapa Wonosobo sangat asri dengan bangunan-bangunan yang artistik, Jepretan Foto pusat kota Wonosobo sangat indah, suasana di Jalan Serayu pun demikian sangat rapi, terasa tenang  dan bersahaja, di Jalan Pasukan Ronggolawe dan Jalan Sumbing yang masih berantakan oleh material untuk pembuatan trotoar tak mengurangi gambaran suasana tentram dan damai pada masa itu.

jl-serayu
jl. serayu (1976)
Wonosobo saat ini jauh berbeda dengan Wonosobo tempo doeloe. sekarang lebih bising, lebih ramai dan semrawut, meski Wonosobo saat ini masih lebih terasa tenang dan sejuk bila dibandingkan dengan kota-kota lain di sekitar wonosobo yang relatif lebih tenang dibanding kota-kota besar di Jawa Tengah maupun Indonesia pada umumnya, Foto-foto ini bukti dan saksi-saksi sejarah Perubahan Wonosobo masa lampau.

jl-sumbing
Jl. sumbing (1976)
Foto-foto ini Saya dapatkan di dokumen komputer inventaris desa. Saya tidak mengetahui secara pasti darimana asal dan siapa yang mengambil foto ini pada saat itu.

WONOSOBO TEMPO DOELOE II

Berikut adalah foto-foto Wonosobo pada zaman dulu, ini adalah lanjutan dari posting yang terdahulu, kali ini menampilkan wajah wonosobo pada masa sekitar tahun 1972, kejadian pada saat perayaan HUT wonosobo pada tahun itu, di Alun-alun kota Wonosobo.

Wonosobo Tempo Doeloe 5

Wonosobo Tempo Doeloe 4

Wonosobo Tempo Doeloe 3

Sedangkan ini adalah Wajah Pendopo Kabupaten Wonosobo pada tahun 1939, sebelum Indonesia Merdeka, Bupatinya saat itu siapa yah ….. ?

Wonosobo Tempo Doeloe 2

Yang jelas Foto di bawah ini bukanlah Genk Motor yang sedang kongkow, mereka mungkin para camat pada zaman dulu, atau Polisi.., dan Motor Honda CB pada saat itu tidak kalah keren dibanding Honda Tiger Revo pada masa sekarang, atau Kawasaki Ninja 250 sekalipun.

Wonosobo Tempo Doeloe

Hmm…, ada yang tahu di bawah ini Foto Wonosobo bagian mana ??

Wonosobo Tempo Dulu

Foto selokan di depan Hotel Merdeka, sekarang Hotel Kresna, trotoar nya sedang dibangun, masih berantakan.

Wonosobo Tempoe Doeloe 1

Demikian Foto-foto ini saya tampilkan di sini, semoga dapat bermanfat dan juga dapat menambah wawasan kita.

WONOSOBO TEMPO DOELOE III

Seperti 2 postingan terdahulu, Wonosobo Tempo Doeloe dan Wonosobo Tempo Doeloe II, kali ini pun kembali menampilkan koleksi foto-foto yang menggambarkan keadaan Wonosobo di masa lalu. Monggo silakan dinikmati persembahan ini, cekidot.


Alun-alun Wonosobo 1950 saat perayaan HUT RI


Alun-alun Wonosobo 1972



Lokasi ini sekarang Jl. A.Yani sekitar jembatan layang antara Rita dan Pasar Induk, ternyata lokasi ini sudah terlihat padat sejak jaman dulu, tidak heran bila sekarang menjadi salah satu lokasi yang hampir setiap saat terjadi kemacetan, disinilah pusat perekonomian Wonosobo dari dulu hingga sekarang.

Kledung Pass, perbatasan Wonosobo-Temanggung, pesona keindahannya menjadi daya tarik sejak dulu



Telaga menjer, landskap paling gokil di Wonosobo


Sekarang BRI selatan alun-alun

Angel Dieng Plateau dari desa Sembungan, patak banteng di masa lalu

Wisma PJKA di Jl. P.Ronggolawe, sekarang pun bangunannya masih model jaman dulu

Kalau yang ini saya sendiri juga bingung di mana, yang jelas ada tulisan Polsek di situ, kira-kira Polsek mana yah ?
Demikian artikel ini saya tampilkan, foto-foto diatas saya dapatkan dari beberapa sumber, semoga bisa menambah wawasan kita tentang Wonosobo.
Sekian.


Kamis, 30 Mei 2013

Aku Anak Tuna Rungu

Puisi - puisi Tuna Rungu
AKU ANAK TUNA RUNGU

Aku yang tidak dengar
Aku yang tuli bisu
Aku yang cacat
Tapi aku tidak dapat peduli 

dengan hinaan orang lain
Tiap hari hatiku bersih dan suci
Walaupun hambatan selalu kualami
Aku masih punya cita-cita
Aku tidak mau kalah
Aku mampu berkarya tuk hidup membantumu
Jangan sangka aku
Bantulah perjuanganku
Bimbinglah hidupku
Agar aku kelak, aku mampu ya
Agar aku mampu dalam hidupku